Senin, 09 Mei 2011

Mencari Harta Haram-pun Susah?


“Mas, saiki mencari duit dari yang haram we susah…apalagi yang halal” sebuah ungkapan yang mengerikan bagi para pencari syurga. Dan itu pasti muncul dari seseorang yang sedang putus asa dan dalam cengkeraman syetan. Ungkapan tersebut hanyalah anekdot, tetapi saat ini suka atau tidak suka anekdot itu telah menjadi keumuman dalam kenyataan.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى اْلمَرْءُ مَا اَخَذَ مِنْهُ اَ مِنَ اْلحَلاَلِ اَمْ مِنَ اْلحَرَامِ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan datang suatu masa, ketika itu orang tidak lagi mempedulikan apa-apa yang dia dapatkan, apakah termasuk yang halal atau yang haram”. [HR. Bukhari juz 3, hal. 6]

Jalan Panjang dan Menanjak dan Berliku menuju Zaman Adil Makmur


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan kepada seluruh pengikut beliau yang selalu mengikuti jalan-jalan petunjuknya.
Manusia dari waktu ke waktu sering membayangkan kejadian ajaib, kejadian instant terwujud bak kejadian tersembunyi dalam semalam, tanpa diketahui tiba-tiba paginya semuanya sudah berubah menjadi suasana adil dan makmur.
Kejadian yang demikian menurut kacamata Al-Qur’an tidak pernah terjadi diseluruh rentang zaman. Yang ada hanyalah ada di dalam cerita negri dongeng yang dibuat untuk memudahkan anak-anak kecil untuk segera dapat senang mendengarkan tentang kemenangan sebuah kebaikan terhadap kejahatan. Dan itu semua tidak pernah ada di dunia nyata.
Dalam masyarakat yang belum memahami prinsip-prinsip sunatullah, maka sering tertipu juga dengan cerita-cerita para dalang yang mengisahkan kemenangan kebaikan atas kejahatan hanya cukup 7 jam sejak dari jam 10 malam hingga jam lima pagi, yaitu ketika seseorang dalang wayang kulit sedang meminkan tokoh-tokoh wayangnya.
Keadaan Realitas nyata yang lebih jelas-jelas malah dapat dihayati yang dipahami oleh para pembaca kitab suci Al-Qur’an, bahwa untuk merubah prinsip-prinsip pola berpikir (pola aqal) dan dan pola berperasaan (pola hati) seseorang, atau masyarakat atau bangsa ditunjukkan dengan ayat-ayat Allah yang menggambarkan kejadian-kejadian yang sering menegangkan suasana. Seorang Nabi dan Rasul utusan Allah selalu digambarkan datangnya adalah di saat Allah berkehendak menolong bangsa itu dari kehancuran moral.
Namun apa yang terjadi ketika Para Nabi dan Rasul itu datang, bukannya mereka mendapat sambutan yang hangat dan ucapan terimakasih, namun biasanya yang terjadi adalah penentangan dan penentangan. Kelembutan dan kearifan seorang Nabi malah disambut dengan Intimidasi dan Kekerasan. Para Nabi dan orang-orang pembangun kebaikan selalu saja menjalani hidup dengan keadaan yang penuh tantangan, dan Para Nabi akan dikenang dengan Manis dan Indah ketika zaman sudah berganti, ketika kejahatan yang merajalela sudah berganti dengan kebaikan yang menjamur di segenap hati manusia.
Para Nabi di saat hidupnya sering mendapat tantangan-tantangan berat, namun ketika beliau-beliau meninggal, dan kearifan yang mereka sampaikan telah terpahami setelah beliau-beliau meninggal, barulah para Nabi diingat kembali, dan bahkan sangat berharap agar sang Nabi yang sudah mati tersebut bisa hidup kembali.